Mandiri dan Berdaya: Transformasi Peran Perempuan Papua dalam Industri Perkebunan Modern
Srikandi di Balik Hijau Sawit: Kisah Perempuan Penggerak Ekonomi di TSE Group-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Pagi yang masih berkabut di tanah PAPUA SELATAN tidak pernah menyurutkan semangat para perempuan yang bersiap melangkah menuju area perkebunan. Di balik hamparan hijau pohon kelapa sawit yang menjulang milik Tunas Sawa Erma (TSE) Group, ada narasi tentang kegigihan yang jarang tersorot. Mereka bukan sekadar pelengkap dalam rantai produksi, melainkan mesin penggerak yang memastikan setiap roda industri tetap berputar, mulai dari sektor lapangan yang menguras keringat hingga ketelitian di meja administrasi.
Kehadiran perempuan dalam ekosistem kerja yang kompleks ini menandai sebuah pergeseran paradigma. Jika dahulu industri berat identik dengan dominasi pria, kini pemandangan berbeda terlihat di TSE Group. Sejak matahari mulai naik, para pekerja perempuan sudah terlibat aktif dalam pemeliharaan tanaman, proses pemupukan yang presisi, hingga ketelatenan dalam mengumpulkan brondolan sawit. Sementara itu, di balik dinding kantor dan pabrik, sebagian lainnya sibuk memastikan operasional dan administrasi berjalan tanpa cela.
Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa kontribusi perempuan telah melampaui batasan sektor domestik. Mereka kini masuk dalam struktur industri modern dengan membawa kompetensi dan dedikasi yang setara. Di tengah berkembangnya sektor perkebunan di wilayah ini, perempuan perlahan namun pasti mengambil peran yang lebih luas dan vital.
Representasi Lokal dan Semangat Perubahan
Salah satu sosok yang menjadi simbol perubahan ini adalah Adel Samfan. Sebagai perempuan Orang Asli Papua (OAP) asal Boven Digoel, perjalanan hidupnya adalah tentang kepulangan dan pengabdian. Setelah menyelesaikan studinya di Yogyakarta, Adel memilih untuk kembali ke tanah kelahirannya dan bergabung di bagian Humas TSE Group. Bagi Adel, pekerjaan ini bukan sekadar karier, melainkan misi personal untuk menginspirasi generasi muda di desanya.
“Saya ingin anak-anak perempuan di kampung tahu bahwa mereka bisa bekerja dan mandiri,” ungkap Adel dengan penuh keyakinan. Melalui perannya, ia ingin menunjukkan bahwa identitas budaya dan kemandirian ekonomi bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
Profesionalisme di Atas Segalanya
Di sisi lain, cerita berbeda datang dari Helmi Yongeneelen. Sebagai perempuan perantau asal Sulawesi, Helmi membawa perspektif tentang adaptasi dan ketangguhan mental. Bertugas di bagian administrasi Divisi 9, ia harus mampu menyesuaikan diri dengan dinamika lapangan yang keras serta lingkungan sosial yang baru baginya. Bagi Helmi, tantangan gender bukanlah penghalang selama seseorang memiliki integritas dalam bekerja.
“Bukan soal gender, tapi kualitas dan tanggung jawab dalam pekerjaan,” tegas Helmi. Prinsip profesionalisme inilah yang membuatnya mampu berdiri tegak dan menjalankan fungsinya secara optimal di tengah lingkungan kerja yang menuntut efisiensi tinggi.
Mendorong Pengakuan yang Berkelanjutan
Kehadiran sosok seperti Adel dan Helmi mencerminkan bahwa ruang bagi perempuan dalam industri sawit kini terbuka lebar, baik bagi talenta lokal Papua maupun mereka yang datang dari luar daerah. Namun, perjalanan ini belum usai. Partisipasi perempuan diharapkan tidak hanya berhenti pada angka atau simbol keberagaman semata.
Tantangan besar ke depannya adalah memastikan bahwa kontribusi besar ini diiringi dengan akses yang setara terhadap posisi strategis serta keterlibatan dalam pengambilan keputusan penting. Di tengah pesatnya industri perkebunan di PAPUA SELATAN, pengakuan yang adil dan perlindungan kerja yang mumpuni menjadi kunci agar pemberdayaan ini berlangsung secara berkelanjutan. Perempuan telah membuktikan bahwa mereka mampu; kini tinggal memastikan dunia industri terus menghargai kontribusi mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari kemajuan bersama.
Sumber: