Daya Beli Masyarakat Papua Tetap Solid Pasca-Lebaran 2026, THR Jadi Pendorong Utama

Daya Beli Masyarakat Papua Tetap Solid Pasca-Lebaran 2026, THR Jadi Pendorong Utama

Analisis Bank Indonesia: Konsumsi Rumah Tangga di Papua Meningkat Signifikan Selama HBKN-Istimewa.-

DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Geliat ekonomi di Bumi Cenderawasih menunjukkan tren yang menggembirakan pasca-perayaan Hari Raya Idulfitri 1447 H atau Lebaran 2026. Meskipun periode puncak hari besar telah berlalu, indikator ekonomi di lapangan memperlihatkan bahwa aktivitas konsumsi tidak lantas merosot tajam. Fenomena ini menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi daerah yang sedang berupaya menjaga momentum penguatan di berbagai sektor.

Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Papua mencatat bahwa daya beli masyarakat di wilayah ini masih berada pada posisi yang sangat kuat. Kondisi tersebut tidak terlepas dari tingginya konsumsi rumah tangga yang terjadi selama periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) tersebut. Faktor musiman yang biasanya memicu lonjakan belanja kali ini berhasil terkelola dengan baik sehingga memberikan dampak berantai pada perputaran uang di pasar-pasar lokal.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Papua, Warsono, mengungkapkan bahwa bertahannya kekuatan belanja publik ini juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter yang mendukung. Salah satunya adalah ketetapan BI-Rate per Maret 2026 yang dipertahankan pada level 4,75 persen, sebuah langkah akomodatif untuk menjaga stabilitas pasar keuangan sekaligus memberikan ruang bagi pertumbuhan.

“Kami memperkirakan bahwa konsumsi rumah tangga bakal mengalami peningkatan seiring dengan pendapatan pada sejumlah kelompok masyarakat, terutama yang berasal dari penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR),” jelas Warsono dalam keterangannya di Jayapura pada Kamis (26/3/2026).

Menurut pengamatan BI, mengalirnya dana THR ke kantong-kantong masyarakat telah menjadi motor penggerak utama aktivitas ekonomi di berbagai daerah di Papua. Untuk menjaga agar momentum ini terus berlanjut, Bank Indonesia kini memfokuskan perhatian pada penguatan sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang dinilai sebagai bantalan ekonomi paling tangguh.

“Untuk itu kami terus mendorong penguatan sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai salah satu pilar utama dalam menjaga daya beli masyarakat,” tegasnya.

Langkah konkret yang diambil meliputi program pembinaan intensif serta perluasan akses pembiayaan bagi para pelaku usaha kecil. Selain itu, BI Papua menekankan pentingnya digitalisasi dalam setiap transaksi.

“Di sisi lain, kelancaran sistem pembayaran digital juga menjadi perhatian utama guna mendukung aktivitas transaksi masyarakat yang semakin meningkat. Digitalisasi dinilai mampu meningkatkan efisiensi serta memperluas akses layanan keuangan,” tambah Warsono.

Meskipun optimisme membumbung, Bank Indonesia tetap memberikan catatan waspada terhadap tantangan ke depan. Risiko global serta potensi gangguan pada rantai pasok pangan akibat fenomena alam El Nino lemah menjadi faktor yang terus dipantau secara ketat.

Sebagai penutup, Warsono mengingatkan pentingnya peran aktif publik dalam menjaga keseimbangan pasar. “Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk tetap berbelanja secara bijak guna menjaga stabilitas ekonomi dan inflasi daerah,” pungkasnya.

Sumber: