Senyum Magdalena dan Harapan Baru di Sudut Merauke Lewat Program Makanan Bergizi Gratis

Senyum Magdalena dan Harapan Baru di Sudut Merauke Lewat Program Makanan Bergizi Gratis

Lebih dari Sekadar Makan Siang: Mengintip Keberhasilan Program MBG dalam Meningkatkan Kehadiran Siswa di Merauke-Istimewa.-

DISWAY.ID PAPUA SELATANSelasa (10/1) pagi di SD Inpres Gudang Arang, Merauke, suasana terasa begitu berbeda. Sekolah yang terletak sekitar 5 kilometer dari pusat kota ini tampak lebih hidup. Di balik dinding-dinding kelasnya, sebanyak 277 murid—yang 90 persen di antaranya merupakan putra-putri asli Papua—sedang tekun menyimak pelajaran. Ada binar yang berbeda di mata mereka, sebuah semangat yang sebelumnya mungkin sering tertutup oleh rasa lemas akibat perut yang kosong.

Pukul 09.00 WIT, sesaat sebelum lonceng istirahat berdentang, sebuah rutinitas baru dimulai. Jika dulu istirahat hanya berarti bermain dengan sisa tenaga yang ada, kini istirahat adalah momen yang paling dinantikan. Sang guru dengan lembut bertanya kepada murid-murid di kelas, siapa di antara mereka yang belum sempat sarapan sebelum berangkat sekolah.

Seketika, sekitar 20 dari 30 anak di satu ruangan mengangkat tangan sambil tersenyum malu. Jawaban jujur ini menjadi pemandangan biasa, namun sekaligus pengingat betapa krusialnya asupan gizi bagi anak-anak di sana. Dengan riang, mereka berlomba mencuci tangan di keran depan kelas sebelum akhirnya masing-masing mendapatkan sebuah ompreng berisi menu lengkap: nasi, sepotong daging ayam, ikan, sayuran, pisang, dan satu kotak susu kemasan.

Kenangan Tangis Magdalena Di antara keriuhan itu, sosok Magdalena, siswi kelas IV, tampak makan dengan begitu lahap. Bagi Magdalena, makanan ini adalah sebuah kemewahan yang kini menjadi nyata. Ingatan publik mungkin masih kuat pada kejadian November 2024 lalu, saat Wakil Menteri Dalam Negeri, Ribka Haluk, mengunjungi sekolah ini untuk uji coba program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

Kala itu, Magdalena berlari dan memeluk erat Wamendagri sambil menangis tersedu-sedu saat ditanya apakah ia sudah makan. “Ko belum makan,” tanya Wamendagri yang ikut menangis kala itu. “Iya,” jawab Magdalena singkat di tengah isak tangisnya.

Momen emosional tersebut menjadi potret nyata tantangan pendidikan di daerah. “Ini persoalannya, di rumah tangga masing-masing punya masalah, kita mengajar mereka di sekolah tapi anak tidak bisa berpikir secara efektif, ilmu tidak bisa masuk karena tidak ada asupan gizi,” tegas Wamendagri Ribka Haluk saat itu. Beliau menekankan bahwa tekad Presiden Prabowo selama lima tahun ke depan adalah memperbaiki gizi demi menyiapkan generasi Indonesia Emas 2045.

Dampak Nyata: Kehadiran dan Fokus Meningkat Kini, Magdalena tidak lagi harus menahan lapar di kelas. Kepada penulis, ia bercerita tentang betapa senangnya ia bisa minum susu setiap hari di sekolah. “Senang (ada makan gratis). Kadang makan supermi pakai nasi dari rumah. Tidak ada susu di rumah. (Kadang) tidak makan,” tuturnya jujur.

Manfaat program ini pun dirasakan langsung oleh pihak sekolah. Kepala SD Inpres Gudang Arang, Natalia Maria Remetwa, S.Pd, mengungkapkan adanya lonjakan kehadiran siswa sejak program ini digulirkan. “Biasanya ada saja anak yang tidak masuk karena belum sarapan atau alasan lain seperti lemas. Tapi sejak ada program ini jumlah siswa yang hadir juga meningkat,” jelas Natalia.

Hal senada disampaikan Kepala SMP Negeri Gudang Arang, Marinus Paskalis Rettob. Menurutnya, anak-anak kini jauh lebih aktif dan fokus. “Secara energi pasti anak-anak lebih semangat karena susu yang masuk ke tubuhnya. Biasanya itu jam 10 pagi sudah ada yang izin untuk pulang, alasannya karena lapar dan lemas, sejak ada MBG ini anak-anak juga semangat belajar sampai jam sekolah selesai,” ungkap Marinus.

Kualitas Gizi yang Terjaga Untuk memastikan kualitas nutrisi, Yayasan Lagenggo Multi Dimensi yang menaungi dapur di wilayah PAPUA SELATAN, termasuk Merauke, Mappi, Boven Digoel, dan Asmat, sangat selektif dalam pemilihan menu. Yovi, penanggung jawab yayasan, menjelaskan bahwa susu yang diberikan adalah jenis kemasan aseptik yang memiliki masa kedaluwarsa lebih lama dan rendah gula.

“Untuk kebutuhan susu yang disertakan dalam menu MBG menggunakan susu kemasan aseptik seperti Omela, Ultra Milk maupun Frisian Flag Omega Nutribrain berjenis plain atau susu putih yang rendah gula,” pungkas Yovi.

Kini, saat lonceng masuk kembali berbunyi, wajah-wajah murid di Gudang Arang tampak lebih segar. Mereka kembali ke meja belajar dengan perut kenyang dan hati yang senang, siap menyerap ilmu untuk masa depan yang lebih cerah.

Sumber:

Berita Terkait