Luka Rohani di Tanah Papua: Mengapa Perjuangan Masyarakat Adat Adalah Panggilan Semua Agama?
Membela Saudari yang Terluka: Suara Gereja atas Perampasan Hak Hidup Masyarakat Adat Papua-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Di balik rimbunnya hutan Papua yang kini mulai terkoyak, tersimpan sebuah luka yang jauh lebih dalam dari sekadar persoalan sengketa lahan. Bagi masyarakat adat setempat, hutan bukan hanya hamparan vegetasi, melainkan ruang sakral yang menyatu dengan jiwa mereka. Ketika alat berat mulai masuk dan ribuan personel aparat mulai terlihat di dusun-dusun, ketakutan yang muncul bukan sekadar kekhawatiran fisik, melainkan trauma psikis yang mengakar.
Kondisi sosiopsikologis masyarakat di kampung-kampung kini berada dalam titik yang memprihatinkan. Kehadiran kekuatan militer yang masif di tengah pemukiman telah menciptakan suasana mencekam yang meruntuhkan tatanan sosial yang selama ini terjaga.
“Masyarakat di kampung ini lihat baju loreng saja sudah ketakutan. Lihat sepatu boad saja sudah ketakutan. Apalagi dengan kehadiran ribuan personel tentara. Kekerasan struktural ini bukan hanya pelanggaran hukum, tetapi luka rohani kolektif yang menghancurkan kepercayaan sosial dan relasi antara manusia,” ujar Romo Yohanes Kristoforus Tara OFM.
Menurut Romo Kristo, jika ditinjau dari dimensi Justice, Peace, and Integrity of Creation (JPIC), konflik yang terjadi di Tanah Papua bukan semata-mata masalah agraria. Ini adalah tentang perampasan hak hidup dan identitas spiritual. Masyarakat adat tanpa tanah dan hutannya adalah komunitas yang kehilangan jati diri. Jika fondasi spiritual ini runtuh, maka keberadaan masyarakat adat itu sendiri perlahan akan sirna.
Dalam menghadapi situasi ini, peran lembaga non-pemerintah seperti Yayasan Pusaka Bentala Rakyat dalam memberikan pendampingan hukum dan advokasi menjadi sangat krusial. Romo Kristo menilai langkah tersebut sebagai wujud nyata dari keadilan transformatif—sebuah nilai yang seharusnya diperjuangkan oleh semua pemeluk agama tanpa terkecuali.
Beliau menekankan bahwa salah satu tujuan utama kehadiran agama adalah untuk memastikan hadirnya keadilan transformatif di tengah masyarakat. “Sebab menurut Romo Yohanes Kristoforus Tara OFM, salah satu tujuan kehadiran agama untuk memperjuangkan keadilan transpormatif. Memastikan transpormatif itu ada. Tapi kalau keadilan transpormatif itu tidak ada, pertanyaannya untuk apa itu agama-agama ada,” tegasnya.
Lebih jauh lagi, dari perspektif keutuhan ciptaan, Romo Kristo menggambarkan hutan di Papua sebagai "saudari" yang kini sedang diperangi. Peningkatan laju deforestasi yang dipicu oleh Program Strategis Nasional (PSN) serta ekspansi perkebunan sawit menunjukkan sebuah realitas pahit: Tanah Papua hanya diperlakukan sebagai ruang kosong untuk investasi, bukan sebagai entitas hidup yang harus dihormati.
Bagi beliau, pengabaian terhadap kelestarian alam ini adalah sebuah pelanggaran berat dalam konteks iman. Alam adalah bagian dari keluarga Allah yang harus dijaga martabatnya.
“Itu yang terjadi di Tanah Papua [sekarang]. Maka dari perspektif ini, penistaan terhadap ciptaan adalah bagian dari penistaan terhadap keluarga Allah dan pencipta itu sendiri,” pungkas Romo Yohanes Kristoforus Tara OFM.
Sumber: