Transformasi Layanan Keagamaan Kristen: Upaya Kemenag Perkuat Ketahanan Umat dan Harmoni Bangsa
Menilik Strategi Bimas Kristen Kemenag dalam Mewujudkan Gereja Ramah Inklusi dan Ekoteologi-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Di tengah keberagaman bangsa Indonesia, peran lembaga keagamaan menjadi pilar utama dalam merawat tenun kebangsaan. Kementerian Agama Republik Indonesia, melalui Direktorat Urusan Agama Kristen, kini tengah menggencarkan langkah strategis untuk memastikan kehadiran negara semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. Bukan sekadar urusan administratif, langkah ini menyasar transformasi mendasar pada kualitas pelayanan dan pembinaan bagi aparatur di daerah.
Spirit transformasi ini dibawa langsung oleh Direktur Urusan Agama Kristen, Luksen Jems Mayor, dalam rangkaian kunjungannya ke wilayah timur Indonesia. Di hadapan para Aparatur Sipil Negara (ASN) Bimas Kristen di Kabupaten Merauke, PAPUA SELATAN, ia menegaskan bahwa setiap layanan yang diberikan harus memiliki dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh umat. Fokusnya jelas: membangun kehidupan berbangsa yang tidak hanya damai dan rukun, tetapi juga beradab.
Komitmen besar ini merupakan pengejawantahan dari arahan Menteri Agama RI, Prof. Dr. KH Nasaruddin Umar, MA. Nilai-nilai kasih, toleransi, dan kemanusiaan diletakkan sebagai fondasi utama yang harus menjiwai setiap gerak langkah ASN dalam melayani masyarakat dan membina umat beriman.
Tantangan dan potensi yang dikelola pun tidak main-main. Berdasarkan data statistik tahun 2025, Direktorat Urusan Agama Kristen menaungi ekosistem yang sangat besar, mencakup 68.134 gereja, 336 sinode, serta 368 yayasan keagamaan di seluruh penjuru negeri. Dengan jumlah umat Kristen yang mencapai lebih dari 21,1 juta jiwa serta dukungan 488 rohaniwan asing yang terdata resmi, diperlukan kebijakan yang presisi dan inklusif.
Luksen Jems Mayor memaparkan bahwa seluruh program saat ini diselaraskan dengan Asta Protas Menteri Agama 2025–2029. Fokusnya meliputi empat pilar utama: penguatan kerukunan berbasis cinta kemanusiaan, penyediaan layanan keagamaan yang berdampak luas, pengarusutamaan ekoteologi (kepedulian lingkungan berbasis teologi), hingga pemberdayaan ekonomi umat.
"Sasaran utamanya adalah meningkatnya pemahaman dan praktik keagamaan umat Kristen, serta terwujudnya layanan keagamaan yang berkualitas, merata, dan inklusif," jelas Luksen dalam paparannya.
Salah satu poin krusial dalam pembinaan ini adalah penguatan Early Warning System (EWS) atau sistem peringatan dini untuk memitigasi konflik sosial-keagamaan. Targetnya cukup ambisius, yakni tindak lanjut rekomendasi sebesar 55 persen. Selain itu, aspek kesalehan umat dan kepatuhan lembaga keagamaan terhadap standar tata kelola terus dipacu melalui berbagai kampanye harmoni dan dialog lintas iman.
Di sektor pelayanan keluarga, Kemenag menargetkan peningkatan kualitas pada bimbingan perkawinan dan penyuluhan agama. Harapannya, ketahanan keluarga Kristiani menjadi lebih kokoh, yang pada gilirannya akan membentuk masyarakat yang religius sekaligus harmonis. Bimas Kristen juga mendorong terciptanya lingkungan gereja yang ramah bagi semua kalangan, termasuk anak-anak, penyandang disabilitas, dan lanjut usia.
Agenda pembinaan di wilayah Papua ini terbagi dalam dua sesi penting. Sesi pertama telah sukses dilaksanakan di Kantor Kemenag Kabupaten Merauke pada Kamis, 29 Januari 2026, yang melibatkan para kepala seksi serta penyuluh agama. Sementara itu, agenda koordinasi lanjutan dijadwalkan berlangsung pada Senin, 2 Februari 2026, di Kantor Wilayah Kemenag Provinsi Papua sebagai forum sinkronisasi kebijakan antara pusat dan daerah.
Melalui sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga keagamaan, dan masyarakat, Direktorat Urusan Agama Kristen optimis bahwa peran umat Kristen akan semakin signifikan—tidak hanya dalam hal spiritualitas, tetapi juga sebagai motor penggerak ekonomi dan penjaga kelestarian lingkungan hidup demi masa depan Indonesia yang lebih baik.
Sumber: