MENATA MASA DEPAN MARIND! Transformasi Sawah sebagai Solusi Pangan dan Ekonomi

MENATA MASA DEPAN MARIND! Transformasi Sawah sebagai Solusi Pangan dan Ekonomi

Paradoks Merauke: Antara Melimpahnya Lahan dan Jeritan Kemiskinan di Ujung Timur-Istimewa.-

DISWAY.ID PAPUA SELATANIstilah "surga kecil yang jatuh ke bumi" telah lama melekat pada Tanah Papua sebagai bentuk kekaguman akan keasrian alamnya. Namun, bagi masyarakat yang menetap dan menggantungkan hidup di sana, narasi romantis tersebut sering kali terasa kontras dengan kenyataan pahit yang dihadapi sehari-hari. Imajinasi surgawi tentang kekayaan alam yang melimpah tidak serta-merta sejalan dengan tingkat kesejahteraan penduduknya.

Di Merauke, Provinsi PAPUA SELATAN, paradoks ini terlihat sangat nyata. Wilayah ini diberkahi dengan biodiversitas yang luar biasa dan hamparan lahan yang seolah tak berujung. Namun secara bersamaan, Merauke masih terjebak dalam status kantong kemiskinan yang persisten.

Wajah ganda ini terpampang jelas dalam data statistik yang menunjukkan bahwa meskipun Merauke diproyeksikan menjadi penopang kedaulatan pangan nasional, Indeks Pembangunan Manusia (IPM) orang asli Papua (OAP) justru masih tertinggal jauh jika dibandingkan dengan wilayah Indonesia bagian barat.

Kesenjangan ini melahirkan fenomena yang memprihatinkan. Di atas tanah yang begitu subur, isu stunting, gizi buruk, hingga minimnya akses terhadap layanan dasar masih menjadi pemandangan ironis.

Situasi ini seolah membenarkan pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik Laudato Si', yang menyoroti "jeritan bumi dan jeritan kaum miskin" sebagai satu krisis kompleks yang saling berkaitan. Kerusakan lingkungan dan kemerosotan sosial bukanlah dua masalah terpisah, melainkan tantangan tunggal yang membutuhkan solusi integral.

Sebagai jawaban atas ketertinggalan ini, negara menghadirkan Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan ambisi besar mengubah Merauke menjadi lumbung pangan raksasa. Meski tujuannya mulia, sejarah mencatat adanya trauma mendalam terkait intervensi skala besar di masa lalu, seperti proyek Merauke Integrated Food and Energy Estate (MIFEE).

Pengalaman tersebut menyisakan skeptisisme karena sering kali proyek raksasa justru berakhir pada kerusakan ekologi dan terpinggirkannya masyarakat adat dari tanah ulayat mereka.

Di tengah kegamangan antara harapan dan trauma, Gereja Katolik melalui Keuskupan Agung Merauke (KAMe) di bawah kegembalaan Uskup Mandagi mengambil posisi yang tegas namun terukur. Gereja memilih langkah profetis dengan memberikan dukungan spesifik terhadap program pembukaan lahan untuk sawah. Dukungan ini bukan berarti memberikan "cek kosong" bagi seluruh jenis PSN, melainkan sebuah filter kritis terhadap berbagai model perkebunan yang masuk ke wilayah tersebut.

Pertimbangan Gereja didasarkan pada realitas lapangan yang menunjukkan adanya pergeseran pola konsumsi. Saat ini, semakin sedikit masyarakat suku Marind yang menjadikan sagu sebagai satu-satunya makanan pokok secara eksklusif.

Oleh karena itu, pengembangan sawah dianggap sebagai solusi strategis untuk meningkatkan taraf hidup sekaligus memutus isolasi ekonomi masyarakat Marind. Dengan pendekatan yang tepat, sawah diharapkan dapat menjadi jembatan menuju kesejahteraan tanpa harus mengorbankan identitas dan keberlanjutan lingkungan di PAPUA SELATAN.

Sumber:

Berita Terkait