Membedah Urat Nadi Ekonomi Merauke: ALFI/ILFA Dorong Pembenahan Logistik Total
Kunci Percepatan Ekonomi Papua Selatan, Ketua ALFI Merauke: Benahi Rantai Pasok!-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Kabupaten Merauke kini berdiri di ambang transformasi besar seiring statusnya sebagai bagian dari Daerah Otonomi Baru (DOB) di Provinsi PAPUA SELATAN. Namun, di balik ambisi pembangunan yang masif, ada satu elemen krusial yang sering kali terlupakan namun menjadi penentu utama keberhasilan: efisiensi sistem logistik. Sebagai wilayah yang berada di ujung paling timur Indonesia, kelancaran arus barang bukan sekadar urusan teknis, melainkan jantung yang menggerakkan seluruh sektor kehidupan masyarakat.
Tanpa sistem distribusi yang mumpuni, potensi kekayaan alam Merauke—mulai dari melimpahnya hasil perikanan hingga produktivitas lahan pertanian—akan sulit memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Tantangan geografis dan infrastruktur menuntut adanya pemikiran baru yang lebih modern dalam mengelola rantai pasok agar Merauke tidak hanya menjadi penonton dalam pusaran pertumbuhan nasional.
Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia atau International Freight Forwarders Association (ALFI/ILFA) DPC Merauke melihat urgensi ini dengan sangat jernih. Menurut para pelaku usaha di sektor ini, pembenahan sistem logistik secara menyeluruh adalah harga mati jika ingin mendorong percepatan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan di Bumi Cenderawasih.
Ketua DPC ALFI/ILFA Merauke, Abi Bakri Alhamid, mengungkapkan bahwa pihaknya memahami betul seluk-beluk hambatan yang terjadi di lapangan. Sebagai garda terdepan, para pelaku logistik merasakan langsung bagaimana kendala teknis dapat menghambat efisiensi biaya dan waktu. Oleh karena itu, sinergi antara pelaku usaha dan pemerintah daerah menjadi sesuatu yang tidak bisa ditawar lagi.
“Sebagai pelaku logistik, kami tentu lebih tahu persoalan yang dihadapi di lapangan. Ketika ada masalah di sektor logistik, kami akan menyampaikan informasi kepada pemerintah daerah dan seluruh stakeholder agar bersama-sama dicarikan solusi dan dilakukan aksi cepat,” ujar Bakri.
Bakri menilai, sektor logistik sering kali dipandang sebelah mata oleh banyak pihak. Padahal, peranannya sangat vital sebagai urat nadi perekonomian. Ia membagi permasalahan logistik ke dalam dua kategori, yakni isu jangka pendek yang mendesak untuk segera diatasi, serta tantangan jangka panjang yang memerlukan perencanaan strategis.
“Semua pergerakan orang dan barang ada di logistik. Sektor perikanan, pertanian, hingga percepatan pembangunan sangat bergantung pada kelancaran logistik,” tegasnya.
Sejalan dengan perubahan status Merauke, Bakri menekankan perlunya pembaruan total dalam manajemen arus logistik, khususnya di kawasan pelabuhan. Salah satu yang menjadi sorotan adalah praktik lama seperti sistem stripping di dalam area pelabuhan yang dianggap kurang efisien. Menurutnya, sudah saatnya kontainer ditarik langsung ke gudang-gudang di luar pelabuhan yang telah disiapkan secara representatif, termasuk dengan pembangunan depo-depo baru.
Transformasi ini juga harus menyentuh sektor unggulan Merauke, yaitu perikanan. Bakri menyoroti pola distribusi yang selama ini masih menggunakan truk kecil untuk pengangkutan ikan dari pelabuhan. Ke depan, ia mendorong penggunaan reefer container atau kontainer berpendingin yang dimuat langsung dari kapal.
“Dengan sistem itu, kualitas ikan lebih terjaga dan bisa masuk standar ekspor. Proses bongkar muat juga lebih cepat, sehingga kapal-kapal penangkap ikan yang beroperasi di wilayah Merauke dapat sandar dan bongkar muat di pelabuhan perikanan nusantara, bukan justru dibongkar ke daerah lain,” jelas Bakri secara rinci.
Pada akhirnya, kemajuan sebuah daerah sangat ditentukan oleh seberapa cepat dan lancarnya arus barang di wilayah tersebut. Di wilayah paling timur Indonesia ini, perubahan dalam pemenuhan rantai pasok adalah sebuah kebutuhan mendesak. Bakri menutup penjelasannya dengan sebuah pesan tentang pentingnya meninggalkan ego sektoral demi kepentingan yang lebih besar.
“Ini sudah zamannya kolaborasi, bukan kompetisi, apalagi ego sektoral. Dengan kolaborasi, semua persoalan pasti bisa diatasi. Kuncinya adalah kolaborasi untuk kemajuan Kabupaten Merauke dan Provinsi PAPUA SELATAN,” pungkasnya.
Sumber: