El Nino Bertahan Hingga 2027, BMKG Peringatkan Risiko Karhutla dan Air Bersih
Puncak El Nino Ancam Papua: BMKG Deteksi 7.991 Titik Panas Karhutla-Istimewa-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Kondisi cuaca ekstrem kini tengah membayangi wilayah timur Indonesia seiring perubahan pola iklim global yang kian terasa intensitasnya. Pergeseran suhu permukaan laut membawa dampak langsung terhadap dinamika atmosfer, memicu berkurangnya pasokan uap air yang biasanya membasahi kawasan daratan.
Kondisi ini perlahan mengubah lanskap lingkungan di Tanah Papua. Hari-hari yang dilalui masyarakat kini dipenuhi paparan terik matahari yang lebih menyengat, sementara ketersediaan air di pemukiman dan kawasan pertanian kian menyusut dari hari ke hari.
Tanah yang mengering serta vegetasi yang tak lagi basah menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap pemicu sekecil apa pun. Menghadapi potensi bencana alam yang mengintai ini, pembacaan data meteorologi menjadi rujukan utama untuk memetakan sejauh mana ancaman karhutla di Papua dan potensi krisis air bersih dapat meluas di berbagai kabupaten.
Puncak El Nino dan Indikator Atmosfer
Fenomena El Nino yang diperkirakan mencapai puncak intensitas sangat kuat pada Oktober 2026 memicu ancaman kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Papua.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Wilayah V Jayapura mencatat 7.991 titik panas atau hotspot terdeteksi di wilayah Papua, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan.
Prakirawan BMKG Wilayah V Jayapura, Naufal Rieki, mengatakan El Nino telah aktif sejak Mei 2026 dan diperkirakan bertahan hingga awal 2027. Fenomena ini menyebabkan penurunan intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Papua.
“El Nino diprediksi masih akan bertahan hingga awal tahun 2027. Kondisi ini secara langsung berdampak pada berkurangnya intensitas curah hujan di sebagian besar wilayah Papua, di mana puncak musim kemarau telah berlangsung sejak Juli hingga September,” ujar Naufal saat ditemui di kantornya, Rabu (14/10/2026).
Dikatakan, dari pemantauan atmosfer dan laut, indikasi El Nino terlihat dari nilai Southern Oscillation Index (SOI) yang mencapai minus 21,3 dan indeks Nino 3.4 sebesar plus 2,83.
BMKG memperkirakan kondisi tersebut meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang mengalami penurunan curah hujan berkepanjangan.
Sebaran Titik Panas (Hotspot) dan Wilayah Rawan
Berdasarkan hasil pemantauan BMKG pada 11 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT hingga 12 Oktober 2026 pukul 02.00 WIT, tercatat 7.991 titik panas tersebar di Papua, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan.
Klasifikasi tingkat kepercayaan (confidence level) sebaran titik panas tersebut mencakup:
-
Kategori Sedang: 7.002 titik (87,6 persen)
-
Kategori Tinggi: 544 titik (6,8 persen)
-
Kategori Rendah: 445 titik (5,6 persen)
Sementara itu, terdapat tiga kabupaten yang mencatatkan konsentrasi titik panas tertinggi di kawasan tersebut:
-
Kabupaten Merauke: 4.910 titik
-
Kabupaten Boven Digoel: 1.132 titik
-
Kabupaten Kaimana: 724 titik
Naufal mengatakan tingginya jumlah titik panas, khususnya yang memiliki tingkat kepercayaan tinggi di Merauke, perlu mendapat perhatian serius dari instansi terkait kerena berpotensi terjadi kebakaran.
“Kondisi tersebut dinilai berpotensi meningkatkan kerawanan kebakaran lahan sehingga membutuhkan pemantauan dan penanganan cepat untuk mencegah meluasnya kebakaran,” ucapnya.
Risiko Krisis Air Bersih dan Imbauan Kewaspadaan
BMKG memperingatkan penurunan intensitas hujan berpotensi memperpanjang periode Hari Tanpa Hujan (HTH) di sejumlah wilayah. Kondisi ini dapat berdampak pada berkurangnya ketersediaan air bersih bagi masyarakat.
Selain itu, suhu udara yang lebih terik pada siang hari dan vegetasi yang mengering meningkatkan potensi terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
“Jika kondisi kering berlangsung dalam waktu lama, risiko kebakaran yang meluas juga dapat meningkat, terutama di wilayah dengan vegetasi dan lahan yang mudah terbakar,” katanya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, tim satuan tugas penanganan karhutla, serta masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak El Nino.
Patroli dan pemantauan lapangan perlu diperketat, terutama di wilayah dengan sebaran titik panas yang tinggi. Masyarakat juga diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Sumber: