Cerita Rizky Hadapi Operasi Perdana di RSUD Perpetua J. Safanpo: Pelayanan Humanis Tanpa Sekat Kelas
Patahkan Stigma Pasien Kelas 3, RSUD Perpetua J. Safanpo Berikan Layanan Cepat dan Ramah Bagi Warga Asmat-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Menginjak usia remaja, Rizky Yoga Prasetya (17) tidak pernah membayangkan bahwa dirinya harus berhadapan dengan meja operasi untuk pertama kalinya. Pengalaman medis yang menegangkan ini bermula dari serangan nyeri hebat di bagian perut yang datang secara tiba-tiba. Bagi Rizky, rasa sakit tersebut adalah yang paling intens yang pernah ia rasakan sepanjang hidupnya, sebuah sinyal darurat dari tubuh yang tak bisa lagi diabaikan.
Kekhawatiran keluarga akhirnya membawa Rizky ke RSUD Perpetua J. Safanpo di Kabupaten Asmat, PAPUA SELATAN. Ketakutan akan prosedur medis yang rumit sempat menyelimuti pikiran, namun situasi darurat menuntut tindakan yang tak bisa ditunda. Diagnosis dokter pun keluar dengan hasil yang cukup mengkhawatirkan: Rizky menderita radang usus buntu akut yang sudah memasuki tahap parah.
Kondisinya kian kompleks karena hasil pemeriksaan intensif menunjukkan telah terjadi perlengketan antara usus buntu dan usus besar. Tanpa langkah cepat, risiko komplikasi serius seperti pecahnya usus buntu yang mengancam nyawa bisa saja terjadi. Namun, di tengah situasi kritis tersebut, Rizky justru menemukan sisi lain dari layanan kesehatan di wilayah timur Indonesia yang penuh empati dan profesionalisme.
“Baru pertama kali, saya rasa sakit apalagi di bagian perut yang sesakit itu,” ungkap Rizky mengenang awal mula serangan penyakitnya.
Kecepatan tim medis dalam mengambil keputusan menjadi kunci penyelamatan. Rizky segera dijadwalkan untuk menjalani tindakan operasi dalam waktu singkat. "Setelah diperiksa ternyata usus buntu dan sudah parah karena usus buntu saya sudah lengket di usus besar," jelasnya mengenai kondisi medis yang dialaminya.
Pasca-operasi yang berjalan lancar, kesan mendalam justru lahir dari masa pemulihan di ruang rawat inap. Meski terdaftar sebagai pasien kelas 3, Rizky mengaku tidak merasakan adanya perbedaan perlakuan. Perhatian yang diberikan oleh perawat dan dokter dianggap sangat tulus dan merata, sebuah pengalaman yang jauh dari bayangan negatif tentang layanan fasilitas publik bagi peserta jaminan kesehatan.
“Sebagai pengalaman pertama ini baik sekali, di RS petugas ramah-ramah, bahkan saya tidak dibeda-bedakan dengan pasien lainnya walaupun hak kelas saya kelas 3, bahkan sebelum operasi juga terlayani dengan baik,” tutur Rizky dengan nada penuh syukur.
Kualitas pelayanan kesehatan tanpa diskriminasi ini turut mendapat perhatian dari Kepala BPJS Kesehatan Cabang Merauke, Dani Hamdani. Ia menegaskan bahwa akses terhadap layanan yang adil merupakan hak mutlak bagi setiap peserta, terlepas dari status kelas perawatannya.
“BPJS Kesehatan terus berkomitmen memastikan seluruh peserta mendapatkan layanan kesehatan yang adil, berkualitas, dan tanpa diskriminasi, termasuk di wilayah PAPUA SELATAN seperti Kabupaten Asmat. Fasilitas kesehatan mitra kami diharapkan memberikan pelayanan terbaik kepada seluruh pasien, tanpa melihat kelas perawatan,” tegas Dani Hamdani.
Ia juga menambahkan bahwa sinergi antara BPJS Kesehatan dan rumah sakit mitra adalah fondasi utama untuk menghadirkan jaminan kesehatan nasional hingga ke pelosok negeri. Kolaborasi ini terbukti efektif dalam memberikan rasa aman bagi warga seperti Rizky yang membutuhkan penanganan medis segera.
Kisah sukses pemulihan Rizky di RSUD Perpetua J. Safanpo bukan hanya tentang kemajuan infrastruktur medis di tanah Papua, melainkan tentang keberhasilan sumber daya manusia di dalamnya yang mengedepankan aspek kemanusiaan. Pengalaman ini pun menjadi pesan bagi masyarakat luas agar tidak menunda pemeriksaan medis jika mengalami gejala yang tidak biasa, karena penanganan dini adalah kunci keselamatan yang utama.
Sumber: