Membuka Tabir Keterisolasian: Proyek Jalan KSPP Wanam–Muting Jadi Urat Nadi Baru Ekonomi Papua Selatan
Sentuhan Infrastruktur di Selatan Papua: Jalan Wanam–Muting Targetkan Pangkas Biaya Logistik dan Berdayakan Masyarakat Adat-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - PAPUA SELATAN kini tengah bersiap menyongsong babak baru dalam peta pembangunan nasional. Hamparan wilayah yang luas dan tantangan geografis yang selama ini menjadi penghalang aksesibilitas, mulai dijembatani dengan deru mesin-mesin konstruksi yang bekerja tanpa henti. Di tengah hutan dan rawa, sebuah jalur penghubung strategis sedang dirajut untuk menghubungkan titik-titik produksi dengan pusat-pusat distribusi logistik.
Upaya ini bukan sekadar pembangunan fisik di atas kertas, melainkan sebuah langkah nyata untuk menghidupkan denyut ekonomi di wilayah paling timur Indonesia. Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah tengah memberikan atensi besar pada pembangunan Jalan Kawasan Strategis Penghubung Produksi (KSPP) Wanam–Muting. Jalur ini diproyeksikan menjadi tulang punggung baru yang akan membawa perubahan signifikan bagi mobilitas warga setempat.
Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan bahwa proyek ini mengemban misi besar untuk mengakhiri masa keterisolasian wilayah di pedalaman PAPUA SELATAN. Keberadaan jalan yang andal diyakini mampu mengubah tantangan geografis menjadi peluang ekonomi yang menjanjikan bagi masyarakat lokal.
Akselerasi Pembangunan di Dua Segmen Utama
Saat ini, pengerjaan proyek KSPP Wanam–Muting telah memasuki tahap pengerjaan intensif yang dibagi menjadi dua segmen besar guna memastikan efektivitas pembangunan.
Pada Segmen II, Kementerian PU tengah menggarap pembangunan jalan sepanjang kurang lebih 80,02 km. Tak hanya jalan, infrastruktur ini diperkuat dengan pembangunan jembatan sepanjang 480 meter di tiga titik lokasi, serta pemasangan box culvert di empat lokasi berbeda. Pekerjaan ini mencakup konstruksi jalan at grade, jembatan, hingga jalan akses pendukung. Guna mengejar target, sebanyak 35 unit excavator, 7 unit bulldozer, 8 unit compactor, dan 2 unit grader telah dikerahkan ke lokasi.
Sementara itu, pada Segmen I, penanganan dilakukan pada jalur sepanjang 58,00 km. Jalan ini dirancang secara modern dengan lebar badan jalan 7,5 meter yang dilengkapi median, serta lebar bahu jalan 1,5 meter. Pendukung lainnya mencakup:
-
Pembangunan 4 unit jembatan (3 unit bentang 50 meter dan 1 unit bentang 40 meter).
-
Konstruksi pile slab sepanjang 6,1 km dengan lebar 11 meter.
-
Pemasangan 17 unit box culvert.
Menteri Dody Hanggodo memaparkan bahwa keandalan infrastruktur ini memiliki tujuan yang jauh lebih luas daripada sekadar penyediaan aspal.
“Pembangunan Jalan KSPP Wanam–Muting ini tidak hanya bertujuan meningkatkan konektivitas fisik, tetapi juga menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi masyarakat lokal. Infrastruktur jalan yang andal akan mempermudah mobilitas orang dan barang, menurunkan biaya logistik, serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat PAPUA SELATAN,” ujar Menteri Dody.
Mengedepankan Dialog dan Hak Masyarakat Adat
Satu hal yang menjadi catatan penting dalam proyek strategis ini adalah pendekatan humanis yang dilakukan pemerintah. Kementerian PU menyadari bahwa jalur yang dibangun bersinggungan langsung dengan tanah-tanah adat yang memiliki nilai sakral bagi penduduk asli.
Sebagai bentuk komitmen terhadap kearifan lokal, sosialisasi intensif dan pendekatan persuasif kepada masyarakat adat telah dilakukan sejak Oktober 2025 hingga Januari 2026. Dialog dilakukan secara maraton di berbagai kampung dan distrik untuk memastikan bahwa masyarakat menjadi bagian dari pembangunan tersebut.
“Kami memastikan seluruh tahapan pembangunan dilakukan dengan mengedepankan dialog, musyawarah, dan penghormatan terhadap hak ulayat masyarakat adat. Pembangunan harus membawa manfaat nyata dan diterima oleh masyarakat setempat,” tambah Menteri Dody.
Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, Kementerian PU berkomitmen menyelesaikan proyek KSPP Wanam–Muting ini secara inklusif. Fokus utamanya adalah memastikan pembangunan yang berkelanjutan, tepat mutu, dan tepat waktu, sehingga masyarakat PAPUA SELATAN dapat segera merasakan dampak positif dari hadirnya infrastruktur yang modern dan andal.
Sumber: