Sosok Baskoro Adi Anggoro di Mata Keluarga, Korban Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel

Sosok Baskoro Adi Anggoro di Mata Keluarga, Korban Penembakan Pesawat Smart Air di Boven Digoel

Keluarga Kopilot Baskoro Desak Pemerintah Serius Tangani Keamanan Penerbangan Sipil di Papua Selatan-Istimewa.-

DISWAY.ID PAPUA SELATANKepergian Baskoro Adi Anggoro (29) meninggalkan luka yang teramat dalam bagi keluarga besar. Kopilot maskapai Smart Air ini gugur dalam tugas secara tragis akibat aksi penembakan yang dilakukan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Bandar Udara Koroway Batu, Kabupaten Boven Digoel, PAPUA SELATAN. Kejadian yang berlangsung pada Rabu, 11 Februari 2026 tersebut, menyisakan tanda tanya besar di benak pihak keluarga mengenai prosedur keamanan di area bandara.

Baskoro sebenarnya baru menjalani tugas di wilayah udara Papua selama lima hari terakhir. Sebagai anak sulung dari dua bersaudara, ia dikenal sebagai pribadi yang hangat dan humoris. Kehadirannya selalu mampu mencairkan suasana dengan tawa, sehingga kepergiannya yang mendadak saat menjalankan profesi yang dicintainya menjadi pukulan hebat bagi orang tua dan kerabat.

Keluarga menyayangkan bagaimana sebuah penerbangan sipil yang membawa belasan nyawa bisa mendarat di bandara yang dinilai minim pengamanan. Doni Widiatmoko (56), paman korban, mengungkapkan rasa heran sekaligus sedihnya saat pertama kali mendengar kabar duka tersebut. Menurutnya, aspek keamanan adalah hal mutlak yang seharusnya sudah dipersiapkan oleh pihak otoritas bandara untuk mencegah aksi teror semacam ini.

"Sedih ya, karena kok (Baskoro) dapat tugas di tempat bandara yang enggak ada pengamanan. Kan mestinya penerbangan sipil ada pengamanan. Mestinya, harusnya begitu ya," ungkap Doni dengan nada getir saat ditemui, Jumat (13/2/2026).

Pihak keluarga tidak menyangka bahwa pendaratan pesawat Smart Air yang diawaki oleh pilot Egon Erawan dan kopilot Baskoro akan berakhir dengan serangan dari KKB Batalyon Kanibal dan Semut Merah. Ketidakadaan personel keamanan yang mumpuni di lokasi kejadian menjadi sorotan utama keluarga korban.

"Bandara enggak ada pengamanan nih bandara apa? Kalau menurut saya begitu ya. Kalau orang tua (Baskoro) juga tadi sempat kaget itu. Kenapa enggak ada pengamanan?" lanjut Doni mempertanyakan sistem keamanan di lokasi tersebut.

Berdasarkan kronologi kejadian, pesawat nahas tersebut lepas landas dari Bandar Udara Tanah Merah pada pukul 10.38 WIT. Pesawat mengangkut dua kru beserta 12 penumpang dewasa dan satu bayi. Setelah menempuh perjalanan singkat, pesawat mendarat di Koroway Batu pada pukul 11.05 WIT. Namun, sesaat setelah roda pesawat menyentuh landasan, aksi penembakan brutal itu langsung terjadi.

Atas kejadian ini, keluarga Baskoro berharap pemerintah tidak tinggal diam. Mereka meminta langkah konkret dan keseriusan dalam menangani konflik di Papua, terutama dalam memberikan jaminan keselamatan bagi kru penerbangan sipil yang bertugas di daerah rawan.

"Ya pemerintah serius lah, serius menangani kasus Papua sama masak penerbangan sipil enggak dijaga. Itu yang paling, paling berat buat kita ya. Ya itu doang," tegas Doni menutup pembicaraan.

Sumber:

Berita Terkait