Transformasi Ekonomi di Ujung Papua: Kisah Paul Tinus dan Gaji Bulanan dari PSN Merauke
Harapan Baru dari Wanam: Saat Pemuda Lokal Jadi Aktor Utama di PSN Merauke-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Kampung Wanam yang terletak di Distrik Ilwayab, Kabupaten Merauke, Papua Selatan, selama bertahun-tahun dikenal sebagai wilayah dengan keterbatasan akses dan fasilitas yang cukup kontras. Di antara deretan rumah papan sederhana dan deburan ombak pesisir, keseharian warga berlangsung dalam ritme yang tenang namun penuh tantangan ekonomi. Namun, belakangan ini, suasana di kampung yang dihuni oleh sekitar 743 jiwa tersebut mulai berubah seiring dengan deru mesin pembangunan.
Kehadiran PSN Merauke (Proyek Strategis Nasional) menjadi titik balik bagi banyak keluarga di sana. Bukan sekadar proyek infrastruktur besar di atas kertas, kehadiran negara di wilayah terpencil ini mulai mengikis keterbatasan yang selama ini menjadi tembok penghalang bagi kesejahteraan masyarakat adat. Salah satu dampak yang paling nyata dirasakan adalah terbukanya peluang lapangan kerja bagi pemuda asli daerah.
Paul Tinus, seorang pemuda berusia 29 tahun asal Wanam, adalah salah satu saksi sekaligus pelaku sejarah dari transformasi ini. Dengan rumah papan sederhana yang ia tinggali bersama istri dan dua anaknya, Paul kini memiliki rutinitas baru yang jauh lebih stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"(Tinggal di rumah ini). Di rumah ini ada dua orang (anggota keluarga)," ungkap Paul saat menceritakan kehidupannya yang kini lebih tertata sejak terlibat dalam proyek nasional tersebut.
Dari Pelaut Menjadi Pekerja Proyek
Selama dua tahun terakhir, Paul telah mendedikasikan tenaga dan waktunya untuk bekerja di PSN Merauke. Ia bercerita bahwa sebelumnya ia harus mengarungi lautan sebagai pelaut untuk menghidupi keluarganya—sebuah pekerjaan yang penuh risiko dengan waktu kepulangan yang tidak menentu. Kini, bekerja di proyek yang berlokasi tak jauh dari rumahnya memberikan keuntungan ganda: pendapatan yang lebih pasti dan waktu yang lebih berkualitas bersama orang tercinta.
"Di proyek PSN, sudah dua tahun. Gaji bulanan," ujarnya singkat namun menyiratkan rasa syukur atas stabilitas finansial yang didapatkannya. Faktor jarak pun menjadi poin penting baginya. "Ekonomi keluarga saya (terbantu), datang mengantar makan, habis itu balik lagi ke proyek," tambah Paul.
Senada dengan Paul, Kepala Kampung Wanam, Kosmas Serilius, menyambut baik langkah sinergi ini. Menurutnya, potensi pemuda lokal di Wanam sangat besar jika diberi ruang untuk berkontribusi.
"Kami di sini 743 (jiwa), iya ada (warga yang bekerja di PSN). Mungkin ke depan kita pemuda juga banyak yang masuk kerja di sana," tutur Kosmas dengan nada optimis.
Sinergi Marga dan Komitmen Swasta
Keterlibatan masyarakat lokal memang menjadi perhatian serius bagi pelaksana proyek di lapangan. Gawang Kurniawan, perwakilan Tim Proyek Wanam, menekankan bahwa keberhasilan pembangunan di tanah Papua tidak bisa dilepaskan dari peran serta masyarakat adat dan marga-marga yang ada.
"Untuk pekerja lokal kami pasti ada, karena kita tahu harus bersinergi dengan masyarakat yang ada. Kita harus memakai atau melibatkan dari masyarakat-masyarakat tersebut, dari marga-marga yang ada. Nanti mungkin kita bisa diskusi juga dengan masyarakat yang ada di sini," tegas Gawang.
Berikut adalah perbandingan signifikan kondisi masyarakat Wanam sebelum dan sesudah adanya intervensi proyek nasional:
| Aspek | Sebelum PSN | Setelah PSN |
| Akses Pekerjaan | Terbatas, dominan menjadi pelaut | Peluang kerja di proyek nasional terbuka luas |
| Pendapatan | Tidak stabil (sistem bagi hasil laut) | Gaji bulanan yang lebih teratur |
| Waktu Keluarga | Jarang bertemu karena melaut | Lebih dekat karena lokasi kerja di kampung sendiri |
| Keterlibatan Lokal | Minim partisipasi pembangunan | Warga lokal dilibatkan secara aktif |
Mengejar Target Kedaulatan Pangan
Di balik cerita-cerita humanis tersebut, PSN Merauke mengusung misi besar pengembangan kawasan pangan nasional. Salah satu mitra swasta yang turut dipercaya mengawal penugasan negara ini adalah Jhonlin Group. Pemiliknya, Andi Syamsuddin Arsyad atau yang akrab disapa Haji Isam, terjun langsung untuk memastikan alat-alat berat seperti ekskavator tiba tepat waktu di Wanam sejak Juli 2024 lalu.
Haji Isam menekankan bahwa partisipasinya sepenuhnya didorong untuk menyukseskan agenda nasional. Fokus utamanya adalah memastikan target pembukaan lahan seluas 1 juta hektare tercapai demi kedaulatan pangan Indonesia di masa depan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat lokal seperti warga Kampung Wanam, mimpi besar untuk menjadikan Merauke sebagai lumbung pangan bukan lagi sekadar angan-angan.
Sumber: