Harapan Baru di Tapal Batas: Boven Digoel Gandeng Kementrans Optimalkan Transmigrasi Lokal
Membangun Ekonomi Inklusif, Boven Digoel Siapkan Lahan Transmigrasi Lokal untuk Warga Perbatasan-Istimewa.-
DISWAY.ID PAPUA SELATAN - Kabupaten Boven Digoel kini tengah menatap babak baru dalam penataan wilayah dan peningkatan kesejahteraan masyarakatnya. Sebagai daerah yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini sepanjang 200 kilometer, wilayah hasil pemekaran Kabupaten Merauke ini memiliki tantangan geografis sekaligus potensi ekonomi yang luar biasa besar. Dengan luas mencapai 27.108 kilometer persegi, masih banyak ruang yang memerlukan sentuhan pembangunan terintegrasi.
Salah satu langkah strategis yang kini tengah ditempuh oleh Pemerintah Kabupaten Boven Digoel adalah melalui skema transmigrasi lokal. Program ini dirancang khusus untuk merangkul warga lokal, termasuk mereka yang berada di garis perbatasan serta eks warga Papua Nugini yang telah resmi bergabung kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi namun belum memiliki hunian yang layak. Langkah ini bukan sekadar pemindahan penduduk, melainkan upaya konsolidasi masyarakat dalam satu kawasan yang lebih produktif dan teratur.
Bupati Boven Digoel, Roni Omba, menegaskan bahwa kesiapan lahan telah menjadi prioritas pemerintah daerah agar para transmigran lokal memiliki modal dasar untuk berkembang. Ia melihat ada urgensi besar untuk menggerakkan roda pembangunan melalui optimalisasi lahan-lahan tidur yang tersebar di wilayahnya.
"Masih banyak potensi daerah yang belum termanfaatkan," kata Roni Omba dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta.
Roni tidak menampik bahwa keterbatasan infrastruktur, jaringan utilitas, serta fasilitas pelayanan dasar masih membayangi tujuh distrik di wilayah perbatasan. Melalui kolaborasi erat dengan Kementerian Transmigrasi (Kementrans), ia berharap akan tercipta kawasan perbatasan yang lebih terintegrasi, di mana masyarakat tidak hanya memiliki tempat tinggal, tetapi juga akses terhadap kemajuan ekonomi.
Senada dengan visi tersebut, Kepala Badan Pengarah Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua (BP3OKP) Provinsi PAPUA SELATAN, Yoseph Yonawa, menyoroti bahwa sektor perkebunan karet dan potensi kopi menjadi tumpuan utama ekonomi masyarakat saat ini. Namun, ia juga jujur mengakui adanya dinamika sosial berupa kekhawatiran warga setempat mengenai isu kedatangan penduduk dari luar daerah.
"Ada pro dan kontra di masyarakat Papua. Walaupun namanya transmigrasi lokal, tetapi ada kekhawatiran terkait datangnya masyarakat dari luar," ungkap Yoseph.
Menanggapi keraguan tersebut, Menteri Transmigrasi (Mentrans) M. Iftitah Sulaiman Suryanagara memberikan jaminan yang kuat. Ia menegaskan bahwa transmigrasi lokal ini murni berdasarkan permintaan pemerintah kabupaten dan tidak akan mendatangkan penduduk luar tanpa persetujuan pihak daerah. Fokus utamanya tetap pada pemberdayaan masyarakat asli setempat.
Terkait aspirasi rumah layak huni, Iftitah menjelaskan bahwa hal tersebut merupakan ranah kementerian teknis lainnya. Meski demikian, Kementrans berkomitmen memberikan dukungan penuh melalui riset mendalam, pemetaan potensi kawasan, hingga upaya menarik investasi agar tercipta pusat pertumbuhan ekonomi baru yang mandiri.
"Tugas transmigrasi hari ini menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkeadilan, dan berkelanjutan," ujar Iftitah menutup keterangannya.
Dengan sinergi ini, Boven Digoel diharapkan mampu mengubah wajah perbatasan Indonesia menjadi beranda depan yang makmur, aman, dan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat PAPUA SELATAN.
Sumber: